academicwritingtips.org – Bayangkan Anda berdiri di tepi jurang sebuah gunung berapi aktif tepat tengah malam. Angin dingin menusuk tulang dengan suhu yang bisa anjlok hingga 5 derajat Celcius, sementara bau belerang menyengat hidung. Namun, alih-alih berlari menjauh karena takut, ribuan orang justru berbondong-bondong mendekat ke bibir kawah yang menganga. Di tangan mereka, tergenggam ayam, kambing, hingga hasil bumi terbaik untuk dilemparkan ke dalam perut bumi yang berasap.
Ini bukan adegan film fantasi atau ritual kiamat. Ini adalah Upacara Kasada Bromo, sebuah perhelatan sakral yang digelar setiap tahun pada bulan ke-12 (Kasada) dalam penanggalan Jawa kuno oleh masyarakat suku Tengger. Sebuah tradisi yang tidak hanya menguji fisik, tapi juga keteguhan hati dalam memegang janji.
Bagi wisatawan, ini mungkin tontonan eksotis yang Instagramable. Tapi bagi masyarakat Tengger, ini adalah hutang sejarah yang harus dibayar lunas. Apa yang sebenarnya membuat mereka rela mendaki dalam gelap dan melempar harta benda ke kawah? Mari kita bedah sejarah dan filosofi di balik ritual kolosal ini.
Janji Roro Anteng dan Joko Seger: Awal Mula Legenda
Untuk memahami Kasada, kita harus memutar waktu kembali ke era keruntuhan Majapahit. Legenda menyebutkan pasangan suami istri, Roro Anteng (putri Raja Majapahit) dan Joko Seger (putra Brahmana), yang melarikan diri ke pegunungan Bromo. Mereka membangun pemukiman yang makmur, namun dirundung kesedihan karena tak kunjung dikaruniai keturunan.
Dalam keputusasaan, mereka bersemedi di tepi kawah Bromo dan memohon kepada Hyang Widhi Wasa. Doa mereka terkabul dengan syarat berat: anak bungsu harus dikorbankan kembali ke kawah gunung.
Fakta: Nama “Tengger” sendiri diambil dari akhiran nama Roro Anteng dan Joko Seger. Pasangan ini dikaruniai 25 anak, dan sesuai janji, anak ke-25 bernama Raden Kusuma terjun (atau dikorbankan) ke kawah untuk menyelamatkan rakyat dari bencana letusan. Upacara Kasada Bromo adalah reka ulang simbolis dari pengorbanan Raden Kusuma tersebut, namun kini diganti dengan hasil bumi dan ternak.
Pura Luhur Poten: Jantung Spiritual di Lautan Pasir
Sebelum prosesi pelemparan sesaji (labuhan), pusat kegiatan berada di Pura Luhur Poten. Pura ini unik karena berdiri sendirian di tengah hamparan Lautan Pasir (Segara Wedi) yang luas dan gersang, dengan latar belakang Gunung Batok dan Bromo yang gagah.
Di sinilah para dukun pandita dan masyarakat berkumpul untuk memanjatkan doa. Imagine you’re di sana: suara gamelan Jawa kuno beradu dengan desu angin pasir, menciptakan atmosfer mistis yang membuat bulu kuduk merinding. Ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan titik temu antara manusia, alam, dan leluhur.
Insight: Arsitektur Pura Luhur Poten sangat kental dengan nuansa Hindu Majapahit, berbeda dengan Pura Bali yang lebih dekoratif. Ini menunjukkan bahwa suku Tengger adalah penjaga ajaran Hindu lama yang masih sangat murni.
Ongkek: Pikulan Harapan Para Petani
Salah satu pemandangan paling ikonik dalam Upacara Kasada Bromo adalah iring-iringan pembawa Ongkek. Ongkek adalah wadah dari bambu yang dihias sedemikian rupa berisi hasil bumi seperti kentang, kubis, wortel, dan buah-buahan.
Masyarakat Tengger mayoritas adalah petani di lahan curam yang subur. Bagi mereka, melempar sebagian hasil panen ke kawah bukan berarti membuang makanan. Itu adalah bentuk sedekah bumi. Logikanya sederhana namun dalam: alam telah memberi mereka kehidupan, maka sebagian harus dikembalikan kepada alam agar siklus keberkahan terus berputar.
Data: Tidak semua desa di kawasan Tengger (Probolinggo, Pasuruan, Malang, Lumajang) wajib membawa Ongkek setiap tahun. Biasanya digilir atau tergantung pada nazar desa tersebut. Namun, antusiasme warga tak pernah surut.
Tradisi “Ngalap Berkah” di Dalam Kawah
Di sinilah bagian yang sering membuat orang luar geleng-geleng kepala. Jika Anda melihat ke dalam kawah saat upacara berlangsung, Anda akan melihat puluhan orang berdiri di dinding tebing kawah yang curam, memegang jaring buatan. Mereka bukan petugas SAR, melainkan warga lokal yang menunggu “tangkapan”.
Saat sesaji (ayam, uang, makanan) dilempar dari atas, orang-orang ini—yang sering disebut sebagai “penangkap sesaji”—akan berebut menangkapnya dengan jaring.
Apakah ini bentuk ketidaksopanan terhadap dewa? Ternyata tidak. Masyarakat Tengger percaya bahwa jika sesaji diterima oleh kawah, itu baik. Namun, jika sesaji tertangkap oleh warga di bawah, itu juga dianggap sebagai berkah (ngalap berkah) bagi si penangkap. Jadi, ada simbiosis mutualisme yang unik antara yang memberi (di atas) dan yang menerima (di bawah).
Ujian Sang Dukun: Mempertahankan Tradisi Lisan
Kasada juga menjadi momen pelantikan dukun pandita baru. Ini bukan jabatan sembarangan yang bisa didapat lewat kampanye. Calon dukun harus lulus ujian berat, yaitu melafalkan mantra-mantra kuno yang sangat panjang tanpa terputus dan tanpa teks (hafalan murni) di hadapan dukun senior dan umat.
Jika salah satu kata saja, mereka bisa gagal. Mengapa begitu ketat? Karena tradisi Tengger adalah tradisi lisan. Dukun adalah perpustakaan berjalan yang menjaga sejarah dan doa-doa agar tidak punah ditelan zaman digital.
Benturan Pariwisata dan Kesakralan
Dalam beberapa tahun terakhir, popularitas Upacara Kasada Bromo meledak berkat media sosial. Ribuan turis dengan kamera canggih dan lampu flash membanjiri area Pura dan bibir kawah.
Jujur saja, ini menimbulkan dilema. Di satu sisi, ekonomi lokal berputar kencang. Hotel penuh, penyewaan jip laris manis. Di sisi lain, kekhusyukan ibadah sering terganggu oleh wisatawan yang tidak tahu etika—menerobos barisan doa demi konten TikTok atau menyalakan lampu sorot saat suasana hening.
Tips: Jika Anda berencana menyaksikan Kasada, jadilah “tamu” yang tahu diri. Gunakan pakaian hangat dan sopan, jangan melintas di depan orang yang sedang berdoa, dan matikan flash kamera Anda. Biarkan magis acara ini meresap ke hati, bukan hanya ke kartu memori kamera.
Kesimpulan
Upacara Kasada bukan sekadar festival budaya. Ia adalah pengingat keras bagi manusia modern yang seringkali arogan terhadap alam. Suku Tengger mengajarkan kita bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari semesta, dan rasa syukur adalah kunci untuk bertahan hidup di lingkungan yang paling keras sekalipun.
Pada akhirnya, Upacara Kasada Bromo adalah tentang keseimbangan. Keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, dan manusia dengan sesamanya. Jadi, jika tahun depan Anda berdiri di bibir kawah Bromo saat dini hari, tanyakan pada diri sendiri: pengorbanan apa yang sudah Anda lakukan untuk menjaga keseimbangan hidup Anda?